Salafus Shalih Menilai Seseorang Dengan Melihat Teman
Dekatnya
Abu Qilabah berkata :
[ Qaatalallahu! Semoga Allah binasakan penyair yang
mengucapkan syair :
Janganlah bertanya siapa dia tapi tanyakan siapa
temannya
Karena setiap orang akan meniru temannya ]
Saya katakan : “Ucapan Abu Qilabah (Qaatalallahu) ini
adalah ungkapan yang menunjukkan kekagumannya
dengan bait syair tersebut dan ini adalah syairnya Ady bin
Zaid Al Abadiy.”
Al Ashma’iy berkata : “Saya belum pernah menemukan
satu bait syair yang paling menyerupai As Sunnah selain
ucapan Ady ini.”
. Abu Hurairah berkata, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa
Sallam bersabda :
“(Agama) seseorang (dikenal) dari agama temannya maka
perhatikanlah siapa temanmu.” (As Shahihah 927)
. Ibnu Mas’ud berkata :
“Nilailah seseorang itu dengan siapa ia berteman karena
seorang Muslim akan mengikuti Muslim yang lain dan
seorang fajir akan mengikuti orang fajir yang lainnya.” (Al
Ibanah 2/477 nomor 502 dan Syarhus Sunnah Al Baghawi
13/70)
. Dan ia berkata :
“Seseorang itu akan berjalan dan berteman dengan orang
yang dicintainya dan mempunyai sifat seperti dirinya.” (Al
Ibanah 2/476 nomor 499)
. Beliau melanjutkan :
“Nilailah seseorang itu dengan temannya sebab
sesungguhnya seseorang tidak akan berteman kecuali
dengan orang yang mengagumkannya (karena seperti
dia).” (Al Ibanah 2/477 nomor 501)
. Abu Darda mengatakan :
“Tanda keilmuan seseorang (dilihat) dari jalan yang
ditempuhnya, tempat masuknya, dan majelisnya.” (Al
Ibanah 2/464 nomor 459-460)
. Yahya bin Abi Katsir mengatakan, Nabi Sulaiman bin
Daud Alaihis Salam bersabda :
“Jangan menetapkan penilaian terhadap seseorang sampai
kamu memperhatikan siapa yang menjadi temannya.” (Al
Ibanah 2/480 nomor 514)
. Musa bin Uqbah Ash Shuriy tiba di Baghdad dan hal ini
disampaikan kepada Imam Ahmad bin Hanbal lalu beliau
berkata :
“Perhatikan dimana ia singgah dan kepada siapa dia
berkunjung.” (Al Ibanah 2/479-480 nomor 511)
. Qatadah berkata :
“Sesungguhnya kami, demi Allah belum pernah melihat
seseorang menjadikan teman buat dirinya kecuali yang
memang menyerupai dia maka bertemanlah dengan orang-
orang yang shalih dari hamba-hamba Allah agar kamu
digolongkan dengan mereka atau menjadi seperti
mereka.” (Al Ibanah 2/477 nomor 500)
. Syu’bah berkata, aku dapati tulisan dalam catatanku
(menyatakan) bahwasanya seseorang akan berteman
dengan orang yang ia sukai. (Al Ibanah 2/452 nomor
419-420)
. Al Auza’iy berkata :
“Siapa yang menyembunyikan bid’ahnya dari kita tidak
akan dapat menyembunyikan persahabatannya.” (Al Ibanah
2/476 nomor 498)
. Al A’masy mengatakan :
“Biasanya Salafus Shalih tidak menanyakan (keadaan)
seseorang sesudah (mengetahui) tiga hal yaitu jalannya,
tempat masuknya, dan teman-temannya.” (Al Ibanah
2/476 nomor 498)
. Ayyub As Sikhtiyani diundang untuk memandikan jenazah
kemudian beliau berangkat bersama beberapa orang.
Ketika penutup wajah jenazah itu disingkapkan beliau
segera mengenalinya dan berkata :
“Kemarilah –kepada– temanmu ini, saya tidak akan
memandikannya karena saya pernah melihatnya berjalan
dengan seorang ahli bid’ah.” (Al Ibanah 2/478 nomor 503)
. Abdullah bin Mas’ud berkata :
“Nilailah tanah ini dengan nama-namanya dan nilailah
seorang teman dengan siapa ia berteman.” (Al Ibanah
2/479 nomor 509-510)
. Muhammad bin Abdullah Al Ghalabiy mengatakan :
“Ahli bid’ah itu akan menyembunyikan segala sesuatu
kecuali persatuan dan persahabatan (di antara
mereka).” (Al Ibanah 1/205 nomor 44 dan 2/482 nomor
518)
. Mu’adz bin Mu’adz berkata kepada Yahya bin Sa’id :
“Hai Abu Yahya, seseorang walapun dia menyembunyikan
pemikirannya tidak akan tersembunyi hal itu pada anaknya
tidak pula pada teman-temannya atau teman duduknya.”
. Amru bin Qais Al Mulaiy berkata :
“Jika kamu lihat seorang pemuda tumbuh bersama Ahli
Sunnah wal Jamaah harapkanlah dia dan bila ia tumbuh
bersama ahli bid’ah berputus-asalah kamu dari
(mengharap kebaikan)nya. Karena pemuda itu bergantung
di atas apa yang pertama kali ia tumbuh dan dibentuk.” (Al
Ibanah 1/205 nomor 44 dan 2/482 nomor 518)
. Ia –juga– mengatakan :
“Seorang pemuda itu benar-benar akan berkembang maka
jika ia lebih mementingkan duduk dengan Ahli Ilmu ia akan
selamat dan jika ia condong kepada yang lain ia akan
celaka.”
166. Ibnu Aun mengatakan :
“Siapa pun yang duduk dengan ahli bid’ah ia lebih
berbahaya bagi kami dibanding ahli bid’ah itu sendiri.” (Al
Ibanah 2/273 nomor 486)
. Ketika Sufyan Ats Tsaury datang ke Bashrah melihat
keadaan Ar Rabi’ bin Shabiih dan kedudukannya di tengah
ummat, Yahya bin Sa’id Al Qaththan berkata : “Ia bertanya
apa madzhabnya?”
Mereka menjawab bahwa madzhabnya tidak lain adalah As
Sunnah, ia berkata lagi : “Siapa teman baiknya?”
Mereka menjawab : “Qadary.”
Beliau berkata : “Berarti ia seorang Qadariy.” (Al Ibanah
2/453 nomor 421)
Ibnu Baththah berkata : [ Semoga Allah merahmati Sufyan
Ats Tsauri, ia sungguh telah berbicara dengan Al Hikmah
maka alangkah tepat ucapannya itu dan ia juga telah
berkata dengan ilmu yang sesuai dengan Al Quran dan As
Sunnah serta apa-apa yang sesuai dengan hikmah, realita,
dan pemahaman Ahli Bashirah, Allah berfirman :
“Hai orang-orang yang beriman, jangan kamu ambil
menjadi teman kepercayaanmu orang-orang yang bukan
golonganmu (sebab) mereka senantiasa menimbulkan
bahaya bagi kamu dan mereka senang dengan apa yang
menyusahkanmu.” (QS. Ali Imran : 118) ]
. Imam Abu Daud As Sijistaniy berkata, saya berkata
kepada Imam Abu Abdillah Ahmad bin Hanbal (jika) saya
melihat seorang Sunniy bersama ahli bid’ah apakah saya
tinggalkan ucapannya?
Beliau menjawab : “Tidak. Sebelum kamu terangkan
kepadanya bahwa orang yang kamu lihat bersamanya itu
adalah ahli bid’ah. Maka jika ia menjauhinya, tetaplah
bicara dengannya dan jika tidak mau gabungkan saja
dengannya (anggap saja ia ahli bid’ah). Ibnu Mas’ud
pernah berkata, seseorang itu (dinilai) siapa teman
dekatnya.” (Thabaqat Hanabilah 1/160 no 216)
. Ibnu Taimiyyah mengatakan :
“Dan siapa yang selalu berprasangka baik terhadap
mereka (ahli bid’ah) –dan mengaku belum mengetahui
keadaan mereka– kenalkanlah ahli bid’ah itu padanya
maka jika ia telah mengenalnya namun tidak
menampakkan penolakan terhadap mereka, gabungkanlah
ia bersama mereka dan anggaplah ia dari kalangan
mereka juga.” (Al Majmu’ 2/133)
. Utbah Al Ghulam berkata :
“Barangsiapa yang tidak bersama kami maka dia adalah
lawan kami.” (Al Ibanah 2/437 nomor 487)
. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda :
“Ruh-ruh itu adalah juga sepasukan tentara maka yang
saling mengenal akan bergabung dan yang tidak mengenal
akan berselisih.” (HR. Al Bukhary 3158 dan Muslim 2638)
. Al Fudlail bin Iyyadl mengomentari hadits ini dengan
berkata :
“Tidak mungkin seorang Sunniy akan berbasa-basi kepada
ahli bid’ah kecuali jika ia dari kalangan munafiq.” (Lihat
Ar Rad Alal Mubtadi’ah li Ibni Al Banna)
. Ibnu Mas’ud berkata :
“Jika seorang Mukmin memasuki mesjid yang di dalamnya
berkumpul 100 orang dan yang muslim hanya satu ia tentu
akan masuk ke dalamnya lalu duduk di dekatnya dan jika
seorang munafiq memasuki mesjid yang di dalamnya
berkumpul 100 orang dan hanya terdapat satu orang
munafiq juga ia akan tetap masuk dan duduk di dekatnya.”
Hammad bin Zaid mengatakan, Yunus berkata kepadaku :
“Hai Hammad, sesungguhnya jika saya melihat seorang
pemuda berada di atas perkara yang mungkar saya tetap
tidak akan berputus-asa mengharapkan kebaikannya
kecuali bila saya melihatnya duduk bersama ahli bid’ah
maka ketika itu saya tahu kalau dia binasa.” (Al Kifayah
91, Syarh Ilal At Tirmidzy 1/349)
. Ahmad bin Hanbal berkata :
“Jika kamu melihat seorang pemuda tumbuh bersama Ahli
Sunnah wal Jamaah maka harapkanlah (kebaikannya) dan
jika kamu lihat dia tumbuh bersama ahli bid’ah maka
berputus-asalah kamu dari (mengharap kebaikan)nya.
Karena sesungguhnya pemuda itu tergantung di atas apa
ia pertama kali tumbuh.” (Al Adabus Syari’ah Ibnu Muflih
3/77)
. Dlamrah bin Rabi’ah berkata, (saya mendengar) dari Ibnu
Syaudzab Al Khurasaniy berkata :
“Sesungguhnya di antara kenikmatan yang Allah berikan
kepada para pemuda ialah ketika ia beribadah dan
bersaudara dengan seorang Ahli Sunnah. Dan ia akan
bergabung bersamanya di atas As Sunnah.” (Al Ibanah
1/205 nomor 43 dan Ash Shughra 133 nomor 91 dan Al
Lalikai 1/60 nomor 31)
. Dari Abdullah bin Syaudzab dari Ayyub ia berkata :
“Termasuk kenikmatan bagi seorang pemuda dan orang-
orang non Arab ialah jika Allah menurunkan taufiq kepada
mereka untuk mengikuti orang yang berilmu di kalangan
Ahli Sunnah.” (Al Lalikai 1/60 nomor 30)
(Sumber : Kilauan Mutiara Hikmah Dari Nasihat Salaful
Ummah, terjemah dari kitab Lamudduril Mantsur minal
Qaulil Ma’tsur, karya Syaikh Abu Abdillah Jamal bin
Furaihan Al Haritsi. Diterjemahkan oleh Ustadz Idral Harits,
Pengantar Ustadz Muhammad Umar As Sewwed.
No comments:
Post a Comment